Kesepian: Disrupsi Emosional yang Kian Banal

Menyoal kesepian di tengah ingar-bingar teknologi dan media sosial, kerap menjadi fenomena yang dianggap subliminal.

Danu.
8 min readJul 22, 2019

Dari ribuan hingga jutaan bait data yang dicerna otak manusia setiap harinya, rasanya haram bagi seseorang untuk merasa hampa atau kesepian. Sayangnya, di era disrupsi yang membikin segala macam tetek bengek kehidupan terhubung dalam satu genggaman, tidak sedikit di antara kita yang merasa terisolasi dan sulit “terhubung” dengan orang lain.

Fenomena kesepian, serta kaitannya dengan media sosial merupakan kolaborasi yang beken ketika dikaitkan dengan konten-konten psikologis di media sosial.

Peralihan konten media sosial dari segala-gala yang mesti sempurna dan amikal, telah menyentuh dimensi psikologis privat pengguna yang rentan dianggap “aib”. Entah unggahan-unggahan depresif dengan lirik lagu, atau hanya sekadar kutipan-kutipan retoris yang menunjukkan: seberapa pengunggah merasakan kesedihan, atau kesepian karena ditinggalkan orang yang dicintainya; semua ini tak jarang hanya dicap sebagai tautan yang cuma sekadar lewat.

Walaupun kerap diabaikan, pada kenyataannya, merasa kesepian, sesungguhnya lebih dari sekadar tren psikologis yang sering dijadikan bahan banyolan.

Painting by Carine Khalife

Kesepian dan kesendirian

Kesepian (loneliness) merupakan suatu persoalan yang kompleks. Kesepian merupakan respons kognisi personal terhadap perasaan hampa atau perasaan ditinggalkan. Simpelnya, kesepian adalah perasaan dimana seseorang mengklaim tidak memiliki keterikatan emosional terhadap orang lain.

Sama halnya dengan perasaan gembira, lapar dan marah; kesepian adalah bagian alami dari “menjadi manusia” (Rokach, 1990:39). Jenny de Jong (1987) mendefinisikan kesepian sebagai situasi yang dialami oleh individu dimana terjadi kekurangan kualitas hubungan tertentu yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima.

Di ruang khalayak, istilah kesepian masih menjadi perkara guyon. Stigma sosial terhadap pemaknaan kesepian yang cenderung negatif, telah mempersempit kepekaan kita terhadap kompleksnya konsep kesepian itu sendiri. Akibatnya, beberapa orang yang mengalami ‘defisiensi’ relasi intim dan bermakna dengan orang lain atau orang terdekatnya, enggan mengakui bahwa dirinya kesepian.

Berdasarkan survey daring yang dilakukan oleh The Mental Health Foundation pada bulan Maret tahun 2010 di Inggris, 42% dari 2,256 responden mengalami depresi karena merasa kesepian. Dan 11% dari jumlah yang sama pernah mencari bantuan karena merasa kesepian. Interpretasi sederhana dari survey tersebut memantapkan asumsi bahwa kesepian bukan cuma perihal jumlah relasi pertemanan saja, melainkan seberapa berkualitas hubungan seseorang, dan seberapa jauh ia menginvestasikan hubungan emosional dengan orang-orang di sekitarnya.

Meskipun demikian, beberapa di antara kita banyak yang memilih hidup sendirian. Pastinya, beberapa orang yang memilih hidup sendiri belum tentu merasakan kesepian. Begitu pun dengan orang yang berkomitmen pada relasi fisik di dalam keluarga atau rumah tangga, belum tentu mereka sudah aman dari perasaan kesepian.

Premis inilah yang menghantarkan kita pada istilah kesendirian (aloneness). Persamaan konsep yang berkesinambungan antara kesepian (loneliness) dan kesendirian (aloneness), mengharuskan keduanya disandingkan dan diuraikan secara bersamaan.

Kesendirian (aloneness) diindikasikan sebagai bentuk isolasi sosial yang didasarkan atas keinginan untuk memilih sendirian dibandingkan berada dalam keramaian (Jacobs, 1978). Sedangkan kesepian (loneliness) cenderung memproyeksikan seseorang yang merasa bahwa mereka sendirian — bahwa mereka tidak punya pilihan dalam masalah ini — dan bahwa mereka tidak ingin berada dalam kondisi tersebut. Merujuk pada definisi ini, pernyataan popular perihal “ … merasa kesepian dalam keramaian, dan bahagia dalam kesendirian,” rasanya makin menjadi valid dan relevan.

Nyatanya, siapa pun bisa memilih untuk sendirian. Tapi tak ada yang mau, dan memilih untuk kesepian.

Sapien: Alien-alien yang terluka

Walaupun kerap disibukkan dengan aktivitas setiap hari, tidak semua orang memiliki “koneksi” dengan apa-apa pun yang dilakukannya. Hal ini tanpa sengaja telah membuat seseorang menjadi terasing dari realita di sekitarnya. Fenomena pengasingan diri ini disebut sebagai alienasi.

Beberapa penyebab kesepian dapat membawa kita pada pengasingan diri yang kronis dengan beberapa penyebab tertentu (Kraus et al. 1993). Situasi asosiatif yang menyebabkan merasa kesepian, serta yang paling umum terjadi, misalnya, kehilangan seseorang yang menyebabkan gangguan dalam hubungan personal (Carr & Schellenbach, 1993).

Kehilangan tidak hanya melalui kematian, bisa juga karena putus cinta, perselingkuhan atau pertengkaran dengan sahabat. Instrumen sosial yang memiliki hubungan sebab akibat secara personal juga ikut menjadi penyebab umum di dalam kesepian dan memantapkan proses alienasi.

Sejak homo sapiens gemar membuat kontrak untuk bertahan hidup, dikucilkan oleh kerabat, teman atau keluarga, menjadi sebuah malapetaka yang wajib manusia hindari. Siapa yang tidak sakit hati ketika ditinggalkan?

Alienation-connectedness continuum Kraus, 1993

Diskursus yang berseliweran di tengah masyarakat mengenai konsep-konsep kesepian sangat dipengaruhi oleh sentimen sosial yang sifatnya kontinyu. Kontinyu yang dimaksud sangat tergantung dari pilihan-pilihan yang menentukan; apakah ia memilih untuk sendirian atau benar-benar kesepian karena ditinggalkan, dan juga dipengaruhi faktor-faktor eksternal yang diakibatkan konstruksi sosial tertentu. Nah, dari sinilah segalanya jadi semakin ruwet.

Seperti rasa lapar, kesepian merupakan sebuah prosedur sistemik yang membuat otak kita menaruh perhatian lebih pada kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial menjadi bagian vital dari intrumen biologis manusia. Walaupun hanya nongkrong dan bersenda gurau perihal masa depan dengan kekasih, sejak dulu, otak kita didesain menjadi sebuah instrumen laten yang membutuhkan orang lain untuk tukar tambah empati. Makanya, hal-hal sederhana seperti: tidak memiliki teman untuk menghabiskan akhir pekan bersama, dan tidak tahu harus mengajak siapa untuk makan siang nanti, melahirkan perasaan yang… tentu saja kadang kali tidak mengenakkan.

Secara historis, mekanisme bertahan hidup manusia sangat bergantung pada ikatan sosialnya (social bonds). Seleksi alam telah menempatkan manusia sebagai makhluk kolektif untuk membangun ikatan sosial yang kontinyu. Untuk berburu memenuhi kalori, bercocok tanam dan bertahan dari ganasnya musim dingin sangat muskil dilakukan sendiri. Bagi nenek moyang kita, ancaman terbesar manusia bukanlah diburu atau diterkam hewan buas, melainkan dikucilkan dan ditinggalkan sendirian oleh komunitasnya. Konon, hidup sendirian di era berburu sama saja mendekatkan diri pada ajal.

Untuk menghindari skenario kematian seperti ini, otak kita memproduksi algoritma semacam: social pain. Otak manusia masih sama adanya seperti nenek moyang kita jutaan tahun yang lalu. Dan itulah mengapa, kesepian karena ditinggalkan dan dikucilkan sangatlah menyakitkan.

“Who contemplates, aspires, or dreams, is not ALONE: he peoples with rich thoughts the spot. The only loneliness how dark and blind!
Is that where fancy cannot dupe the mind;
Where the heart, sick, despondent, tired with all, looks joyless round, and sees the dungeon wall.”

Lalu, mengapa begitu bangga kita menjadi alien di rumah sendiri?

Jiwa-jiwa kesepian yang kerap menuntun pada kematian

Sewaktu-waktu, siapa saja bisa merasakan kesepian. Di ceruk pertikaian antara kelas pemenang dan kelas pecundang, sialnya, kesepian hadir seperti tamu tak diundang yang ogah pandang kelas. Ia dapat menghampiri dan menggentayangi siapa saja: Yang kaya, yang miskin. Yang berdiri, yang tertindas. Yang berkelas, hingga yang nahas. Kesepian menyergap yang hidup, sambil dengan cerdik berusaha mengajak beberapa orang untuk mengakhirinya.

Representasi efek, penyebab dan faktor kesepian (Holmen, 1992).

Sejumlah penelitian yang menitikberatkan faktor kesepian pada individu dan interaksinya, menemui jalan buntu dengan rumitnya spektrum kesepian itu sendiri (Holmen et al. 1992).

Isolasi interpersonal yang sering menjadi perdebatan sebagai indikator utama penyebab kesepian, tak bisa lepas dari fakta bahwa setiap latar belakang individu yang kesepian itu unik.

Perihal depresi, low self esteem, opresi berbasis seksualitas, rasisme, putus asa di dalam pekerjaan, hingga relasi interpersonal yang toksik, seciamik apa pun metode telaahnya, hingga hari ini belum ada analisis presisi bagaimana bisa kesepian menjadi epidemi yang menggerogoti manusia dan tak jarang menuntun pada kematian.

Dari berbagai skenario yang menyeramkan, sudah selayaknya kita mulai melakukan arisan-arisan yang produktif. Bukan lagi gapah-gopoh mendiskriminasi tipe-tipe orang yang rentan terhadap kesepian, tapi lebih fokus ke bagaimana kita, secara kolektif, dapat lebih terkoneksi dengan komunitas kita secara bermakna.

Bermacam-macam episode kesepian tentunya menjangkiti siapa saja, dan tentu ini bergantung pada pengalaman pribadi setiap orang yang subjektif dan rumit. Kesubjektifan dan kerumitan ini terjadi karena kita cenderung abai untuk mendengarkan sekaligus memberikan ruang aman bagi diri kita dan orang di sekitar kita.

Sekali lagi, kesepian merupakan pengalaman universal. Layaknya lotre, itu tergantung kemahiran kita dalam menciptakan ruang yang kondusif untuk saling terhubung sebagai manusia, tanpa embel-embel profesionalitas yang membatasi ruang-ruang interaksi kita sebagai manusia.

Mudah saja kok’

Konsekuensi laten dari rasa sakit yang disebabkan oleh kesepian, sama fatalnya seperti luka fisik. Social pain menuntun kesadaran kita pada mekanisme defensif. Kita jadi rentan menganggap orang lain sebagai ancaman alih-alih sebagai teman untuk mengutarakan perasaan dan rasa sakit.

Dalam keadaan kronis, kesepian menyebabkan kita mudah berprasangka buruk terhadap orang lain. Hal ini disebabkan oleh mekanisme defensif yang menstimulus otak menjadi lebih reseptif dan waspada terhadap mimik, intonasi dan ucapan seseorang. Interpretasi negatif inilah yang cenderung membuat kita menjadi lebih sentral, egois, individualistik, dan akhirnya malah terus-menerus berusaha berlindung dari prasangka orang lain yang dapat membuat kita: sakit.

Agar tidak pailit dalam siklus laten yang diakibatkan oleh kesepian, hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima bahwa diri kita merasa kesepian.

Tak perlu tabu dan malu, sebab setiap orang pasti merasakan kesepian. Dan hal tersebut adalah bagian dari mekanisme biologis dan psikologis kita sebagai manusia.

Melatih relationship muscle. Sekali kita gagal untuk memiliki hubungan yang bermakna dengan seseorang, kita akan memutuskan untuk berhenti melakukan investasi emosional yang mendalam ke setiap jenis relasi interpersonal. Di situ pula kita akan kehilangan keterampilan relationship muscle untuk mempertahankan hubungan dengan seseorang. Sama halnya seperti otot, keterampilan tersebut harus dilatih secara berkala.

Ternyata simpel kok, memutuskan menghubungi kerabat hari ini, mengajak teman kantor ngopi atau sebatas ceplas-ceplos dengan keluarga yang sudah lama tidak bertegur sapa, bisa membantu kita ‘melatih’ otot-otot relasi yang sudah lama kendur karena kebiasaan defensif.

Faktanya, tak ada yang menyangka kalau kesepian akan jadi fenomena yang cuma jadi bahan bercanda. Kebutuhan emosional manusia secara fundamental tidak cukup hanya didekorasi oleh cenderamata kapitalisme yang membuat kita jadi individualistik dan konsumtif. Tatkala kesepian kian menular, sudah saatnya kita memutus rantai epidemi ini dan tidak tabu lagi mendiskusikannya. Tidak perlu bertele-tele untuk memulainya. Ternyata simpel, kok:

Apa kabar? Kamu udah ngobrol sama siapa aja hari ini?

Referensi:

  • De Jong Gierveld. July 1987. Developing and Testing a Model of Loneliness. Journal of Personality and Social Psychology Vol 53 (1).
  • Holmen K., Kjerstin E., Andersson L. & Winblad B. (1992) Loneliness among elderly people living in Stockholm: a population study. Journal of Advanced Nursing 17, 43-51.
  • Kaufmann J. Single people, single person households, isolation, loneliness; a status report. Brussels: Commission of the European Communities, Directorate General V, 1993.
  • Kraus L.A., Davis M.H., Bazzini D., Church M. & Kirchman C.M. (1993) Personal and social in ̄uences on loneliness: the mediating effect of social provisions. Social Psychology Quarterly 56 (1), 37-53.
  • Rokach A. (1988) The experience of loneliness: a tri level model.
    The Journal of Psychology 122 (6), 531-544.
  • Rokach A. (1990) Surviving and coping with loneliness. The
    Journal of Psychology
    124 (1), 39-54.

--

--