Tuhan, dan Mengapa Banyu Meninggalkannya

Danu.
9 min readMay 26, 2019

--

Content Warning // Violence, Religion, Sexual.

1.

Selepas adzan magrib berkumandang, warga kampung Patianrowo digemparkan dengan mangkirnya Banyu dari pengajian. Orang-orang di sekitar pelataran masjid kocar-kacir mencegat Banyu yang hendak mencari Tuhan di pelacuran Mak Rusmini. Mbah Sugito yang sedang asyik nongkrong di jamban terpaksa berhenti melahirkan tai. Kemudian, bergegaslah ia melepitkan sarung di pinggulnya untuk kemudian berlari menerabas gerombolan majelis taklim yang masih gaduh akibat ulah Banyu. Cecak-cecak yang sedang berahi hanya melongok dari plafon masjid, lalu kembali cekikikan dengan iringan suara takbir.

Kehadiran Mbah Sugito berhasil meredakan riuh orang-orang kampung. Dengan gelagapan, Sumitro yang menjadi saksi bisu perkara Banyu berusaha menjelaskan pada Mbah Sugito dengan bahasa isyarat kalau: “Banyu pergi cari Tuhan,” katanya.

Mereka yang hanya plonga-plongo di bawah pohon mahoni, di hadapan kebun pisang nangka, sambil menenteng sarung dan mukena, segera mengerubuti Sumitro meminta penjelasan. Sekenanya penjelasan Sumitro masuk ke kepala mereka, hanya sahut-sahutan astagfirullah yang menjalar dari mulut mereka bagai kesurupan jin sigala-gala. Walaupun ternyata duduk perkaranya sederhana; Banyu menolak menjadi muadzin. Alasannya, sudah lelah Banyu panggil-panggil nama Tuhan, lantas tak pernah sekali pun Ia mengabulkan permintaannya, katanya. Hanya pertanyaan yang ditinggalkan Banyu di sana, apa Tuhan benar-benar sudah mengabaikannya?

Kemudian datanglah ia ke Ustad Anwar yang masih bergeming di tempat wudu. Banyu yang datang dengan membawa persoalannya berhasil membuat Ustad Anwar naik darah. Perkataan Ustad Anwar yang membikin Banyu mangkir dan pergi ke pelacuran Mak Jombang sederhana sebenarnya.

“Demi Gusti Allah! Mau sampeyan jilat kaki ibukmu, surgamu sudah hangus. Dasar laknat!” seloroh Ustad Anwar dengan seluruh iman yang ada di dirinya.

Banyu memprotes kalau perkara surga dan Tuhan tidak pernah ada di bawah kaki ibunya. Sayangnya, Ustad Anwar yang sudah jengah, kemudian mengusirnya sekaligus menitah Banyu untuk mencarinya sekali lagi. Kali ini, Ustad Anwar suruh mencari di rahim ibunya. Maka, pergilah Banyu ke pelacuran Mak Rusmini untuk mencari surga di dalam rahim ibunya.

Selama hampir dua puluh tahun Mbah Sugito mengenal Banyu, baru hari ini anak itu berkeinginan untuk bertemu ibunya yang sebelum melahirkannya pun sudah melonte. Perasaan suka cita Mbah Sugito itu ia rayakan dengan mangkir solat magrib.

Di bawah pendaran langit sore yang hampir memudar, desas-desus perihal Banyu yang pergi mencari Tuhan sudah menyebar ke kampung sebelah. Setelah rakaat tiga solat magrib, Elizabeth buru-buru menenteng mukenanya sambil berlalu ke rumah Mbah Sugito. Sebagai mualaf yang hijrah keyakinan karena diiming-imingi cinta, masa depan dan batang kemaluan, Elizabeth sangatlah pusang apabila Banyu benar-benar mencari Tuhan. Sebab, kalau benar Banyu mangkir dari pengajian, maka pengorbanan spirituilnya pun menjadi sia-sia.

Pertemuan mereka berawal dari laungan adzan Banyu yang menggetarkan hati Elizabeth, yang sedang bermalas-malasan sambil menggumamkan Mazmur di teras rumahnya yang tak jauh dari mesjid. Sewaktu-waktu, Elizabeth mengintip dari kebun pisang nangka, mencari cara untuk melihat atau hanya sekadar mendengar suara Banyu yang sedang adzan. Namun, Ustad Anwar mendapatinya mengintip dan ditawarinya ia masuk Islam.

Betul saja, pesona Banyu telah membikin Elizabeth memutuskan untuk hijrah keyakinan. Hingga keesokan harinya, transaksi antara kalung rosario dan kalimat syahadat pun sukses diperjualbelikan. Elizabeth sekarang menyandang nama baru, “Alhamdulillah, sekarang namamu Elis,” ujar Ustad Anwar dan dewan masjid. Lantaran darah Elizabeth setengahnya itu Sunda, pelafalan nama barunya lebih terdengar seperti suara sendawa ketimbang huruf “E” pada umumnya. Di situlah “Eulis” diperkenalkan kepada Banyu dan berhasil membuat mereka saling jatuh cinta. Di situ pula Elis mengamini kalau ada Tuhan yang tidak pelit. Semenjak itu, mereka menjadi gemar bercinta setiap habis solat isya.

Elis menemui Mbah Sugito yang sedang merokok dan menyeruput kopi di warung depan rumahnya. “Lho, Banyu kok gak dijemput, Mbah?” tanya Elis. Keringat khawatir telah bercucuran di wajah Elis yang membayangkan perasaan Banyu ketika memergoki ibu kandungnya sedang ngentot. Mbah Sugito sendiri hanya mendengus dan tidak terlalu memusingkan soal itu. Justru ia lebih memikirkan hal lainnya ketimbang persoalan Banyu yang mau bertemu ibunya. Di balik bibirnya yang telah menghitam itu, terbit sebuah senyum simpul lantaran ia teringat dengan Rusmini.

“Sungguh menyedihkan,” kata Mbah Sugito sambil membuang asap rokok ke langit yang mulai menghitam. “Kamu kalau sudah cinta, Nduk, semuanya serba digampang-gampangin.” Tak ada hujan tak ada setan, Mbah Sugito mulai berceletuk tentang kenangan. Berseranahlah Mbah Sugito soal Rusmini yang dulu ingin ia kawini. Elis hanya melongo, lalu bergegas duduk seperti bersiap mendengar kisah yang lebih menggemparkan daripada cerita Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung demi selangkangan Ken Dedes.

“Mengawini lonte itu lebih susah daripada perawan pesantren,” kata Mbah Sugito kepada Elis.

Pria yang mengenakan udeng sebagai mahkotanya itu menyesap kepekatan dari cangkir kopinya dan menceritakan bagaimana ia bertemu Rusmini. Awalnya ia berusaha membeli Rusmini dengan seekor sapi dan seperangkat alat solat, serta bertumpuk-tumpuk kain sari yang didapatkannya dari pedagang India yang minta dibarter dengan lidah atau biji pelir sapi dari ternaknya yang tak seberapa itu. Tentu saja Rusmini menolak. Ia lebih memilih disetubuhi pria sekampung dan dibayar, daripada diperistri tapi cuma diimbalin mas kawin dan duit belanja.

Kata Rusmini, jadi istri itu bisnis paling merugikan di dunia. Sudah sama-sama melacur, sudah sama-sama di kasur, tapi persoalan libur pun lebih lama pelacur daripada istri-istri saleh yang gemar di dapur. Maka, langit petang di pesisir Patianrowo menjadi saksi ditolaknya lamaran Mbah Sugito kepada Rusmini.

“Tapi, Mbah betul cinta?” tanya Elis dengan tatapan iba. Mbah Sugito hanya menggeleng.

Kenyataannya, Mbah Sugito lebih tahu apa yang tidak diketahui Elis soal cinta. “Cinta itu persis lubang tai. Kita ndak pernah bisa melihatnya dengan jelas tanpa mata orang lain,” tutur Mbah Sugito dengan nada menenangkan.

Lalu cepat-cepat ia tambahkan kalimatnya: “Rusmini pernah tawari aku jadi langganannya.”

Namun, tawaran itu tak semulus kedengarannya. Mbah Sugito menolak menyetubuhi Rusmini dalam wujud pelacur. Rusmini sendiri dibuat geram, sebab tak satupun laki-laki di tanah Pationrowo pernah menolak kemolekkannya. Wangi kembang-kembang yang menguar dari kulitnya, perasan madu yang lekap di bibirnya, pun sepasang buah dada yang menggampai, semua itu tak berarti selain niatan Mbah Sugito yang ingin memperistri Rusmini. Dengan khalis, syahdu, serta disahut-sahuti prosesi akad yang meriah. Setidaknya, itu yang Mbah Sugito inginkan.

Kendati Rusmini yang telah sukses menjadi pelacur nomor satu di Patianrowo di usia dua puluhnya, bagaimanapun, kenyataan yang terjadi saat ini tidak pernah terbayangkan oleh Rusmini. Dari situlah warga Pationrowo bergegas mempersiapkan arena perang di antara dewa yang tidak pernah mengencingi rahim tanpa sumpah pernikahan, dan dewi yang ogah dikencingi dengan sumpah setia sampai mati.

“Mungkin kita akan berperang.”

“Dan itu akan menjadi perang yang sangat melelahkan,” dan Mbah Sugito harus mengelus dada lalu pergi memikul dendam Rusmini.

Pertempuran itu berlangsung tak lebih dari setahun. Mbah Sugito di umur dua puluh duanya, hidup digentayangi teror dan dendam. Bukan soal Rusmini yang menolak diperistri, melainkan dia yang dengan angkuh menolak untuk menyetubuhi Rusmini. Tentu saja, menjadi pria yang berani-beraninya menolak tubuh sang dewi telah memberikannya predikat sebagai musuh sesembahannya, dan membikin reputasi Rusmini di Pationrowo jeblok. Melihat harga diri dan kerajaannya luruh, ia berserapah dan bersumpah untuk sementara tidak melacur sebelum Mbah Sugito mati dan bertekuk lutut di hadapannya.

Setiap perjalanan ke pasar di pagi yang berkabut, Mbah Sugito harus berpapasan dengan preman-preman Patianrowo yang menghadiahinya badik untuk ditancapkan di leher atau jantungnya. Sedangkan di malam-malam ketika kelelawar menguar, di kedai-kedai di pinggir sungai, ia berusaha dijebak oleh lonte-lonte dari pelacuran yang hendak memerkosanya dan dengan cerdik bersiasat untuk meracuninya dengan tawon ndas ketika pria itu lengah. Lebih parah lagi, Abah Ahmad, dukun paling mematikan di jagad Patianrowo telah diperalat Rusmini untuk mengirimi santet paling mematikan ke kediaman Mbah Sugito.

Sayangnya, semua siasat dan akal bulus yang diusahakan Rusmini untuk membunuh Mbah Sugito tak kunjung berhasil. Cara apa pun yang dilakukan sang permaisuri idaman kaum berahi untuk membunuh Mbah Sugito, agaknya, pria itu selalu berhasil mengatasinya.

Sebelas bulan sudah peperangan itu berlangsung. Hingga pada bulan Maret yang tiap siang bolong dilanda hujan badai, berhembus kabar di Patianrowo kalau Rusmini sakit keras dan sudah seminggu tak keluar kamar. Warga kampung bergunjing bahwa itu adalah akhir dari sang permaisuri Pationrowo. Berita itu menyayat hati Mbah Sugito dan membuatnya merongrong untuk menjenguk Rusmini. Lagi pula peperangan itu di luar dari keinginan Mbah Sugito. Ia sendiri hanya bertahan dari bertubi-tubi serangan Rusmini yang menginginkan nyawanya tanpa membalasnya. Dari setiap darah yang mengucur dari usahanya bertahan hidup, tak sedikit pun muncul perasaan dendam atau benci kepada Rusmini. Warga Pationrowo tertatih-tatih mencegah Mbah Sugito untuk menemui Rusmini karena bisa saja kemunculan Mbah Sugito dapat memicu kematian Rusmini yang sudah tidak berdaya menghadapi perjuangan cinta Mbah Sugito.

Peristiwa peperangan itu memang melelahkan. Bukan hanya Mbah Sugito, bahkan seluruh warga di Pationrowo dibuat cemas karenanya. Semenjak hari meletusnya pertikaian di antara Mbah Sugito dan Rusmini, sebelumnya Pationrowo sudah bergejolak akibat kepala desa yang merencanakan pembantaian pedagang Tionghoa yang dituduh makar, serta dianggap memonopoli perdagangan kayu gelondong ke Sunda Kelapa. Di siang hari yang panasnya menyayat pelipis, berderet-deret tentara lengkap dengan senapan di tangannya, membabi-buta menembaki warga Tionghoa yang jumlahnya tak lebih dari hasil panen mangga di Patianrowo.

Peristiwa itu cukup membuat warga Patianrowo terbeliak dan susah payah menata kembali kehidupan yang rukun dan bersahaja tanpa teror dan ketakutan. Belum lama bergembira dengan ketenangan, seminggu setelahnya, warga Patianrowo harus berurusan dengan suami-suami mereka, pemuda-pemuda yang berahi, serta preman-preman keras kepala yang susah payah memburu pria paling sakti di Patianrowo: Mbah Sugito. Korban jiwa banyak berjatuhan karena kebodohannya untuk melawan Mbah Sugito, atau mengorbankan nyawanya untuk bisa tidur siang dengan Rusmini.

Perihal larangan serta gunjingan yang diterima Mbah Sugito karena meredupnya sang permaisuri, tak ubah membuatnya mengurungkan niatnya. Pergilah ia memutar sepeda tua yang tergeletak di sebelah kandang sapi di rumahnya, menerobos hujan untuk menjumpai pujaan hatinya. Mbah Sugito mendapati Rusmini yang tergeletak di kamarnya dengan bersimbah air mata. Wajahnya yang semula bercahaya dan menyilaukan, sekarang redup bagai disiram tai anjing dan kencing kuda. Tubuhnya tak lebih tebal dari kulit tahu, bibirnya tak lebih pucat dari nanah sapi, dan aroma tubuhnya tak lebih wangi dari bangkai tikus. Mbah Sugito berlari ke arah tubuh yang nampak tak bernyawa itu, memeluknya, membenamkan wajahnya di tubuh Rusmini dan menangis sejadi-jadinya untuk meminta maaf.

“Tolong, setubuhi aku. Tolong,” pinta Rusmini dengan terbata. Mbah Sugito yang tak kuasa menahan sakit di dadanya hanya terisak dan berdesis: tak menyangka aku akan menyiksamu, katanya.

“Aku tidak kuat lagi, tolong, setubuhi aku.”

“Tidak. Tidak sebelum kamu kuperistri.”

“Untuk hari ini, aku akan menjadi istrimu. Untuk hari ini saja, harga diriku, harga diri kulelang.” Rusmini dengan lunglai berusaha meraih tubuh Mbah Sugito. Memohon.

Ketidakberdayaan mereka berdua seolah-olah menjadi akhir pertikaian dan peperangan di antara dewa dan dewi. Sore itu di tengah derai hujan dan amukan petir, Mbah Sugito yang murka dengan alam semesta yang tidak merestui cintanya, melucuti satu-satunya pakaian yang melekat di tubuh Rusmini dan melahap bibirnya seolah itu adalah syarat Tuhan untuk masuk surga. Ia gigit bibir Rusmini sampai darah bercucuran dari mulut mereka berdua, lalu ia jilati dan muntahkan ke wajah Rusmini. Begitu seterusnya hingga ia gapai tubuh Rusmini dan dicengkramnya seolah ingin menghancurkannya berkeping-keping. Ia porak-porandakan tubuh Rusmini seolah itu adalah benteng terakhir untuk menaklukan raja, dan sekaligus melucuti senjata terkahir sang raja. Dengan bengis mereka bercinta, saling melucuti, saling melukai. Untuk pertama dan terakhir kalinya, Mbah Sugito bersetubuh dengan Rusmini seolah besok kemaluan mereka akan pensiun bercinta.

“Cara terbaik untuk bunuh diri itu, ya, mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, Nduk.”

Elis sesenggukan, sedangkan Mbah Sugito merayakan ceritanya itu dengan menghisap rokoknya dengan satu kali tarikan napas. Di matanya tak ada sedikit pun rasa sedih, namun keangkuhanlah yang ia tunjukan di hadapan Elis yang tersedu-sedu mendapati cerita yang penuh tragedi. Di tengah-tengah isaknya yang membahana itu, Elis bertanya soal akhir dari hubungan cinta Mbah Sugito dan Rusmini, “Lalu, Mbah, apa Rusmini juga akhirnya cinta sama Mbah?”

Mbah Sugito menggeleng. Katanya, setelah mereka bercinta dengan penuh peluh dan dengan perasaan saling membunuh, Mbah Sugito pergi meninggalkan Rusmini dengan perasaan bahagia dan tidak pernah bertemu dengannya lagi. “Seperti terlahir kembali,” bisiknya kepada Elis. Begitu pun Rusmini, keesokan hari ia terbangun, dia dapati dirinya sudah dalam keadaan terbaiknya dan kembali menjalankan rumah bordil miliknya. Bahkan, ia langsung ditunggangi lima puluh pria dalam sehari. Warga Pationrowo memberikan ucapan selamat kepada Rusmini dengan membuat syukuran di tempat pelacuran itu berupa tumpeng dan panen-panen buah nangka dan cempedak.

“Delapan bulan setelahnya, di akhir bulan Desember, Rusmini datang ke rumah,” kata Mbah Sugito. Elis dengan haru mendengar perkataan itu seperti menerima mukjizat. Menyisakan harapan kalau saja kisah Mbah Sugito tidak setragis itu.

Katanya, ia dikasihkan bayi laki-laki oleh Rusmini, ditemani dengan iring-iringan warga Patianrowo yang merayakan kelahiran bayi itu ke dunia. Bayi itu tampan, hidung dan ujung dagunya sudah mencirikan pria Banaspati yang siap menerjang hutan belantara. Warga Patianrowo menjadikan anak itu legenda hidup, sebab kelahirannya seperti kelahiran seorang nabi yang dilahirkan oleh bintang.

“Di ufuk timur, bintang terang. Terang sekali! Lalu, anak ini lahir seperti turun dari langit!” Cerita salah seorang dukun bayi yang membantu mengeluarkan anak itu dari rahim Rusmini.

Mbah Sugito dengan terkaget-kaget hanya mampu menimpali pemberian itu dengan penuh rasa syukur, seperti menerima Zabur versi kejawen. Dan, kurang lebih selama dua puluh tahun ia kenalkan anak itu dengan Tuhan, tumbuh besar di bawah sabda dan alunan ayat-ayat Quran.

“Seperti Yesus,” ujar Elis dengan penuh perasaan terpukau sambil menitikan air mata.

“Dan anak itu, kuberi nama Banyu.”

[Berlanjut]

--

--